bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Apakah “Koteka” Itu Simbol Kerbelakangan dan Kemiskinan?

Sunday, December 6th 2015. | Realita

Sudah lama pertanyaan ini diajukan, dan begitu lama juga jawabannya tidak jelas. Masih banyak di kalangan Orang Asli Papua, khususnya dari Pegunungan Tengah Papua, yang ragu untuk menyatakan apakah “koteka” artinya miskin dan terbelakang atau tidak. Saya teringat dengan cerita waktu tahun 2000, satu orang mengenakan Koteka berjalan-jalan di Kota Jayapura, masuk ke Bank Papua dan mengambil uang ratusan juta rupiah dan mengisinya ke dalam “noken”. Orang Papua in dari suku Mee, dan dengan uang itu dia ke Dealer mobil di Entrop Jayapura dan membeli mobil baru.

Saya juga teringat Operasi Koteka yang diluncurkan oleh Ali Moertopo dan Acup Zainal pada waktu saya masih kecil. Waktu itu paman saya dengan Kepala Sukunya menangkap ikan dan ikan itu dibawa ke Wamena, kepada Bupati Wamena. Waktu itu kami tidak menyebut Bupati Jayawijaya tetapi Bupati Wamena. Waktu pulangnya mereka membawa pulang 2 karung goni beras bulog.

Hal yang mengherankan saya waktu itu ialah paman saya itu waktu pergi mengenakan “koteka”, tetapi sewaktu pulang mengenakan celana tali dan baju kaos leher bulat, bertulisan Golokar Pilihanku.

Saya tanya kepadanya, “Itu dari mana?” Di bilang, “Ssssst diam! Jangan tanya! Itu Indonesia yang kasih! Mereka tidak mau saya punya koteka!”

Saya memang sudah pernah menyaksikan “Indonesia” datang ke kampung saya dan menembak babi-babi dan juga menghukum orang-orang, menampar mereka, jadi saya dengan takut tidak bertanya lebih lanjut.

Kasus ketiga ialah Lukas Enembe pada waktu kampanye pertama untuk menjadi Gubernur Papua. Lukas Enembe menang dalam kampanye kedua baru-baru ini. Tetapi waktu pertama-tama mencalonkan diri sebagai gubernur, tepatnya di lapangan pendidikan Wamena, dia pernah mematahkan “Koteka” dan mengatakan, “Saya jadi gubernur, maka saya akan mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan di Tanah Papua”. Jadi di sini menurut Lukas Enembe waktu itu koteka adalah simbol kemiskinan.

Saya tidak tahu apa pandangan Ali Moertopo dan Acub Zainal tentang Koteka sehingga disuruh dengan paksa menggantikan koteka dengan pakaian kain, yaitu menggantikan pakaian tradisional Papua dengan pakaian masyarakat modern.

Baru-baru ini, pada waktu Gubernur tidak hadir saat Presiden Indonesia Joko Widodo datang ke Tanah Papua itu, ada yang memberikan komentar seperti ini, “Gubernur keluar melulu, urus isteri-isterinya yang dia simpan di pulau Jawa. Rakyat Papua tetap pakai koteka, tetap miskin, sementara pejabatnya tingal di pulau Jawa. Uang trilyunan sudah dikuncurkan, tetapi tetap saja pakai koteka” Jadi komentar ini menunnjukkan dengan jelas koteka ialah simbol kemiskinnan orang Papua.

Yang terjadi dalam beberapa cerita kasus ini ialah perbedaan paradigma dalam melihat satu sama lain. Apakah kalau orang Papua melihat orang Jawa mengenakan blankon itu kita anggap tanda kemiskinan? Apakah orang Papua mengenakan koteka itu tanda kemskinan? Apakah identitas budaya seseorang ialah tanda kemiskinan? Apa ukuran kita tentang kaya dan miskin? Kita mengukurnya dari pakaian? Ataukah kita ukur dari aspek rohani dan jasmani?

Ya, Tuhan, aku memohon kepada-Mu, berilah aku hikmat untuk memahami sejelasnya, apakah Koteka pakaian adat saya itu ialah tanda kemiskinan? Kalau ini tanda kemiskinan, mengapa tanda itu kau taruh di tanah Papua, yang disebut Edo Kondologit dalam lagunya sebagai Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi?

Facebook Comments
tags: , , , , ,

Related For Apakah “Koteka” Itu Simbol Kerbelakangan dan Kemiskinan?