bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Bagi Mayoritas Orang Indonesia, Papua Sama dengan Pemabuk

Tuesday, December 1st 2015. | Perspektif, Realita

Apakah benar? Kalau benar kapan Papua mandiri-nya?

Ini sebuah pernyataan yang mentantang kita semua! Pasti kita sebagai orang Papua yang membaca artikel ini unya reaksi “tidak menerima” dan pasti kita katakan “tidak semua orang Papua begitu”.

Saya, Jhon Kwano, tidak mau bicara tentang apa perasaan kita. Kita tidak menyoal anggapan atau kelakuan mayoritas atau minoritas orang Papua terhadap orang Papua ialah fokus kita di sini. Yang kita harus pahami ialah “tanggapan publik” atau “kesan umum” di Indonesia tentang atau terhadap “Papua” sebagai sebuah kesatuan identitas manusia Melanesia, bangsa Papua yang kini ada di dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau kita tanyakan tentang “Papua” seabgai sebuah wilayah, maka pasti banyak orang dengan langsung akan katakan, “wah kayaraya ya, banyak duit ya, makmur ya” dan sejenisnya. Kalau kita menyoal manusia “Papua”, tanggapannya bukan “wah”, tetapi “wahduh”, yang artinya kasihan, menyedihkan, sayang sekali dan sejenisnya.

Saya berikan contoh kasus untuk diuji sendiri. Masuklah ke hotel Makassar, Bali, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Bandung, Jakarta apalagi, dan mintalah makanan dari kamar hotel. Pada waktu mereka antar makanan, Anda perhatikan pertanyaan orang yang bertugas di “room service”. Dia akan tanya apa saja yang dipesan. Lalu kalau kita bilang, “Ya, sudah!”, maka dia akan bilang, “Wah, itu udah Pak, apa nggak minum?”

Contoh kasus kedua. Turun saja di Bandara Hasanuddin di Makassar atau Ngurah Rai Bali atau Sukarno-Hatta Cengkareng Jakarta dan cari taksi dan coba naik taksi. Anda akan ditanya, “Mau ke mana?” Kalau Anda jawab hotel, lalu akan dilanutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain, yang akhirnya harus kita jawab menyangkut minum dan mabuk. Kalau Anda menjawab, “Maaf, saya nggak tahu minum”, nanti malahan mereka heran, “Kokh nggak ya? Ahh, mas, bohong ahh, kan kuat minumnya kan?” Istilah “kuat minumnya” maksudnya “pemabuk” dalam bahasa Indonesia-Jawa.

Sebuah kejanggalan dan tidak dapat diterima akal sehat di luar orang Papua kalau seorang Papua mengaku “Nggak Tahu minum”. Apalagi kalau kita sebagai orang Papua mengaku, “Saya benci mabuk”, maka itu menjadi sebuah pernyataan yang bisa ditolak mentah-mentah, bahkan bisa jadi tertawaan. Bisa dibalas, “Udah-lah Mas, kalau saya nggak apa-apa, saya juga suka minum kokk, kan kita saudara, kita juga minum”, untuk membuat pertahanan kita melemah. Walaupun kita bersumpah, berapa kalipun, dan sudah saya lakukan ini berulang-ulang, mereka pasti terus saja sangsi bahwa kita memang benar-benar tidak biasa mabuk/ minum alkohol, apalagi kita benci.

Sekarang pertanyaannya, “Kalau memang benar orang Papua itu pemabuk, apakah ada harapan di masa depan?” Jawabanya sudah jelas, masa depan Papua suram. Kita tidak usah menyalahkan Indonesia, menyalahkan kaum Amber di Tanah Papua. Orang Papua sendiri membunuh dirinya sendiri dengan perilaku makan dan minum yang salah, yang mengorbankan dirinya sendiri, dan malahan sudah menjadi kesan umum di Indonesia, maka bagaimana bicara kemandirian, sementara jatidirinya sendiri saja sudah di-kesan-kan sebagai pemabuk?

Ini menjadi tantangan berat buat kita semua sebagai orang Papua.

Kita sebagai sebuah kesatuan ras dan etnik, seharusnya punya rasa malu di-kesan-kan sebagai pemabuk.

Kita sebagai orang Papua ras Melanesia seharusnya mulai memutar otak untuk berperilaku dan bertindak secra sadar, secara strategis dan secara bersama-sama, mulai dari sekarang membangun pemikiran-pemikiran, perilaku-perilaku dan pola hidup yang pada akhirya merubah kesan umum di Indonesia tentang Orang Papua, tentang ras Melanesia.

Orang Papua yang lahir, hidup dan mati di tanah yang kayaraya sehrusnya juga kayaraya dengan kearifan, kebijakan dan pengetahuan, sehingga ia memancarkan energi kehidupan yang membuat orang lain merasa terpuaskan dan merasa aman dan damai kalau mereka hidup bersama kita. Kita berkewajiban membangun kesan umum tentang kesatuan identitas Papua yang positif.

Kapan kita mulai? Ya sekarang!

 

Facebook Comments
tags: , ,

Related For Bagi Mayoritas Orang Indonesia, Papua Sama dengan Pemabuk