bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Bagi Mayoritas Orang Papua, Tanah Papua ialah Neraka Kecil yang Timbul ke Bumi

Friday, December 4th 2015. | Aneka Berita

Terbalik dari lagu Edo Kodologit yang elah saya tulis dalam artikel sebelumnya berjudul, “Bagi Mayoritas Orang Indonesia, Papua Ialah Surga Kecil Yang Jatuh Ke Bumi“, kita coba lihat dari sisi lain, “Apa pandangan orang Papua terhadap Tanah leluhurnya sendiri, yaitu Tanah Papua, atau Bumi Cenderawasih?

Saya teringat sebuah Doa di waktu makan pagi yang pernah dipanjatkan oleh Alm. Demianus Tawy Wanimbo. Pada waktu itu kami ada di Jayapura, menjelang Kongress Rakyat Papua II 2000. Doa itu bunyinya seperti ini,

Ya Tuhan, Pencipta dan Pelindung Tanah dan Bangsa Papua, saya berdoa di hadapan semua tua-tua adat dan tokoh masyarakat saya di sini, Tuhan kalau Engkau sudah pernah banyak kali mendengarkan doa-doa perkumpulan orang yang bercaya kepada-Mu dan melakukan banyak mujizat, seperti setiap hari dikhotbahkan di seluruh Tanah Papua dan di seluruh dunia, saya berdoa, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat-ku, pindahkanlah emas-emas, tembaga-tembaga, uranium dan batu-batu berharga semua yang ada di pegunungan Nemangkawi keluar dari Tanah, pindahkanlah itu ke pulau Jawa. Karena kami orang Papua tahu, bahwa gunung Ndugu-Nndugu dan Kweya-Kweya, Ngga Pulu dan lain-lain yang dulunya kami tahu dihuni oleh nenek-moyang kami dan para penguasa Bumi itu sudah menjadi kutuk bagi kami yang sulit kami uraikan betapa dalamnya kutuk itu menghantam kami. Salah kami apa Tuhan? Sehingga batu-batu yang seharusnya menjadi berkat ini ternyata menjadi kutuk? Tuhan, kalau Engkau pernah membuat air menjadi anggur, orang mati bangkit, sakit sembuh, pindahkanlah semua batu-batu mulia di gunung-gunung ini dari Tanah Papua ke pulau Jawa. Tuhan dengarkanlah doaku ini, dari dalam lubuk hati yang dalam saya berdoa, menyuarakan suara hatinurani semua orang Papua, nenek-moyang kami dan seluruh makhluk di Bumi Cenderawasih.

Sekali lagi Tuhan, dengarkanlah doaku. Di dalam nama Yesus, amin, amin, amin!

Saya memang heran, saya menyangka dia berdoa untuk makan pagi. Tidak ada satu katapun diucapkan tentang makan pagi. Tidak ada campuran doa lain, tidak didoakan tentang Kongres Rakyat Papua yang segera berlangsung.

Doa ini dinaikkan tepat tanggal 20 Mei 2000, dihadiri oleh delapan orang Kepala Suku Nduga, Amungme, Kamoro, Lani dan Mee. Kepala Suku yang dapat saya sebutkan namanya ialah Negro alpius Kogoya (Almarhum), dan Bapak Waker (Alm.) keduanya dari suku Lani. Kepala suku yang lain saya tidak diperkenalkan nama mereka.

Saya mau tunjukkan kepada pembaca sekalian “Apa artinya Tanah Papua buat orang Papua sendiri?” Apakah orang Papua mengakui tanah-leluhur mereka untuk dikelola demi kemakmuran atau kesejahteraan orang Papua seperti yang dikumandangkan Gubernur Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Klemen Tinal dalam visi Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahera ataukah ternyata tidak begitu.

Saya tidak tahu apa pandangan orang Papua lain selain dari Alm. Demianus Tary Wanimbo, bahwa tanah Papua bagi Orang Asli Papua (OAP) sendiri bukanlah sebuah surga, seperti dinyanyikan oleh Edo Kondologit. Lagu yang dinyanyikan Kondologit itu ialah pandangan orang no-Papua terhadap tanah leluhur bangsa Papua ras Melanesia, yaitu tanah Pulau New Guinea.

Sekarang saya bertanya kepada Anda, hai pembaca: Tanah Papua itu apa bagi Anda: Surga kecil yang jatuh ke Bumi, ataukah Negara Kecil yang Timbul ke Bumi?

Facebook Comments
tags: , , , , , , , , ,

Related For Bagi Mayoritas Orang Papua, Tanah Papua ialah Neraka Kecil yang Timbul ke Bumi