bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

MEA dan Papua sama dengan Gajah dan Semut, Tergantung Siasat

Monday, October 19th 2015. | Perspektif

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah dimulai sejak Desember 2015. Pemberlakuan MEA berarti masyarakat Papua bukan lagi berhadapan dan bersaing dengan masyarakat non-Papua dari Jawa, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan, tetapi orang Papua sudah diterjunkan langsung ke lautan bernama “perdagangan bebas ASEAN” di mana bangsa-bangsa di Asia Tenggara-lah yang menjadi saingan bisnis dilapangan usaha.

Jhon Yonathan Kwano mengatakan, “Ini sama denagn Gajah versus semut, tetapi tergantung kepada siasat, bukan terletak kepada ukuran badan. Walaupun opini sekilas memenangkan gajah, tetapi tidak selalu begitu, tergantung siasat si semut!” Artinya bahwa orang Papua haruslah secara alamiah memberikan reaksi, dan mengatur langkah-langkah konkrit menghadapi apa yang dia sebut “ancamana regionalisasi” yang sudah tidak sanggup ditunda lagi.

Masih menurut Kwano,

Orang Papua tidak pada posisi harus pusing keliling siang dan malam berpikir tentang siapa yang harus dijadikan kambing-hitam atas ketertinggalan, kemiskinan, keterisolasian, dan keterpurukan ekonomi yang telah nyata-nyata dihadapi siang-malam di Tanah yang kayaraya ini. Sudah bukan waktunya lagi! Tidak akan ada orang yang memperdulikan kita lagi. Orang Jawa, orang Sumatera, orang Sulawesi, mereka semua masing-masing bersaing menghadapi pasar ASEAN, jadi mau urus orang Papua? Enak saja! Memangnya orang Papua itu siapa jadi mereka mau pusing? Kalau mereka sendiri terpaksa harus bersaing, buat apa mereka pusing-pusing pikir orang Papua untuk maju bersaing?

Masih menurut Kwano,

Orang Papua juga tidak usah hidup dalam impian Bank Papua dan Pemerintah Provinsi memberikan kemudahan-kemudahan dan fasilitas seperti pinjaman lunak dan sebagainya.

Alasan utama jelas, karena orang-orang yang menjadi pegawai Bank Papua dan orang-orang yang menjabat di pemerintah provinsi sendiri ialah pencari kerja, para pengemis sendiri, para tengkulak sendiri, mereka punya pekerja lapangan, pengelola proyek, mereka sendiri perlu kerja, jadi apa mereka begitu baik sehingga mau bantu pengusaha Papua?

Lihat saja, banyak proyek Bank Papua disalurkan ke luar tanah Papua. Lihat saja Proyek besar-besaran dikuncurkan Bank Papua untuk membiayai Kopi Toraja, sementara di Tanah Papua sendiri Kopi Papua binaan KSU Baliem Arabica merayap setengah mati sampai ngos-ngosan.

Kepala Unit Perkreditan, Kepala Unit Pemasaran, dan banyak Kepala di Bank Papua ialah tengkulak proyek, sehingga mereka salurkan kredit kepada jaringan mereka sendiri, keluarga mereka sendiri.

Kalau modelnya seperti ini, kapan Papua maju? Kapan pengusaha Papua diperhatikan? Kapan MEA menjadi bermakna bagi orang Papua?

Yang jelas orang Papua akan tinggal gigit jari, dan tinggal mengeluh, sampai masuk kuburan lengkap dengan memikul penyelasan dan kedengkian.

Jhon Yonathan Kwano menyatakan supaya hal-hal negatif ini tidak terjadi, kita orang Papua harus bergabung, bukan bergabung dan mengemis ke Pemerintah Provinsi, bukan mengemis ke Bank Papua, tetapi mengemis kepada diri sendiir, datang kepada diri sendiri, berpikir potensi yang ada pada diri sendiri, dan bergerak maju setelah menyatukan kekuatan.

Kwano melanjutnya,

MEA sama dengan gajah. Papua sama denagn semut. Sekarang akal dari si semut di mana dan bagaimana untuk menjatuhkan si gajah? Caranya jelas bukan mengemis ke Pemda, apalagi ke Bank Papua.

 

Facebook Comments
tags: , , ,

Related For MEA dan Papua sama dengan Gajah dan Semut, Tergantung Siasat