bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Memang Nasib Kita Sudah Begini, Mari Kita Lupakan Yang Lalu

Tuesday, December 29th 2015. | Perspektif

Memang Nasib Kita Sudah Beini, , Mari Kita Maju Mengejar Cita-Cita Adil-Makmur

Selain dari tulisan saya sebelumnya tentang keberpihakan yang menganak-emaskan agama mayoritas dan menganak-tirikan dan pemaksaan kepada agama-agama minoritas untuk meneripa apa adanya, dan memaksa kita untuk harus toleran, kini saya lebih tertarik mencatat sedikit goresan tentang kondisi bathin yang merata di Indonesia, terkait sejarah Indonesia di Era Orde Lama dan Orde Baru dan kehidupan di Era Reformasi.

Ada pihak di Indonesia yang menghendaki semua hal-hal yang tidak manusiawi dan melanggar HAM di masa lalu harus diselidiki dan para pelakunya harus dihukum. Di pihak lain ada yang mengatakan

“Udah biarkan aja, itu resiko bernegara dan berbangsa, jadi kita lupakan saja masa lalu, kita lihat masa depan yang lebih baik.”

Bagi saya ada tiga peranyaan penting di sini: Pertama, apakah memang mudah melupakan masa lalu seorang manusia, sekelompok orang manusia, seketurunan manusia? dan Kedua, apakah masa depan itu sanggup menghapus masa lalu? Kalau masa depan sanggup menghapusnya, “masa depan yang dimaksud itu apa sebenarnya: indonesia yang adil dan makmur?”

Saya berbicara dalam scope global, dalam perspektif teori pembangunan, dikaitkan dengan Teori kebutuhan manusia dalam hierarki menurut Abraham Maslow yang secara seratus persen dijadikan agama di Era Orde Baru. Jelas Soekarno tidak percaya kepada teori Maslow. Ia tradisionalis di satu sisi, karena ia mengedepankan rohani, psikologis dan mentalitas orang Indonesia lebih daripada tahapan-tahapan pembangunan ala Soeharto.

Saya lebih condong setuju dengan Soekarno. Sama dengan Joko Widodo juga, bahwa mentalitas harus dirombak.Dan yang harus dirombak pertama ialah “cita-cita kemerdekaan, yaitu masyarakat yang adil dan makmur”.  Saya tahu pasti ada yang bilang saya gila, tetapi memang itu faktanya kita harus meninggalkan kepercayaan bahwa kemerdekaan Indonesia bertujuan akhir mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Alasannya bukan karena Indonesia tidak sanggup, tetapi karena memang kehidupan yang adil dan makmur itu tidak ada di dunia, tidak ada di planet Bumi, di negara manapun di muka Bumi tidak ada negara yang sudah adil, sekaligus sudah makmur pada waktu bersamaan. Adil saja tidak ada satupun, apalagi makmur.

Jadi, kalau saya disuruh melupakan masa lalu demi masa depan, maka “demi masa depan yang mana?” atau “demi masa depan yang bagaiman?”

Semua masyaakat Indonesia seharusnya berpikir ulang, apa fungsi negara buat dirinya, keluarganya, suku-bangsanya? Jangan sampai negara justru hadir sebagai penyulut masalah kehidupan, yang menjauhkan manusia dari kehidupan yang manusiawi.

Facebook Comments
tags: , , , ,

Related For Memang Nasib Kita Sudah Begini, Mari Kita Lupakan Yang Lalu