bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Negara ini Memang Begini dari Sononya, Kamu Yang Minoritas Terima Aja Apa Adanya

Tuesday, December 29th 2015. | Realita

Negara Indonesia ini Memang Begini dari Sononya, Kamu Yang Minoritas Terima Aja Apa Adanya

Saya selalu memperhatikan dan mengikuti beberapa pendapat, ungkapan, pernyataan, arahan, dan saya bandingkan dengan apa yang telah dilakukan Negara Indonesia terhadpa berbagai macam agama yang ada di Indonesia.

Di Era Orde Lama semua agama diterima, diberikan janji akan mendapatkan perlakukan merata dan adil. Dengan semangat mengusir penjajah Belanda, semua pihak bergaung, bahkan Komunis Indonesia-pun dirangkul. Sukarno berkeyaninan teguh bahwa Komunisme, Nasionalisme dan Agama dapat hidup berdampingan. Ternyata itu tidak terbukti, bukan? Bukan hanya tidak terbukti di Indonesia, tetapi di seluruh dunia memang tidak terbukti. Komunisme runtuh.

Di Era Orde Baru banyak organissi keagamaan yang dianggap membahayakan regime Soeharto dan kebijakannya ditindas. Termasuk organisasi masa Islam terbesar di Indonesia Nadhatul Ulama ditindas. KH. Abdurrahman Wahid dipenjara, dikejar-kejar.

Di Era Reformasi, banyak organisasi yang dulunya dilarang atau dibayang-bayangi ancaman menjadi bebas, terlepas dari cengkeraman Orde Baru. Bahkan Gus Dur yang dulunya dikejar-kejar Suharto-pun menjadi  Presiden Indonesia, Megawati Sukarnoputri yang ditindas Suharto juga menjadi Presiden Republik Indonesia.

Regime berubah, era berubah, presiden berubah.

Di lapisan luar, kelihatannya, ya, kelihatannya segala-sesuatu mengalami perubahan-perubahan.

Tetapi saya beritahu Anda, ada hal-hal yang tidak berubah. Dari berbagai hal yang tidak berubah, salah satu yang paling menonjol dan setiap hari dibicarakan ialah “toleransi atau kerukunan uamat beragama di Indonesia”.

Kalau saya mau jujur, “kerukunan umat beragama atau pluralisme di Indonesia sebenarnya dipaksakan”. Bagaimana dipaksakan?

Dengan cara memaksa orang minoritas di Indoensia menerima sejarah, apapun pahitnya, apapun manisnya, terima saja.

Jakarta Lawyers Club baru-baru ini mengulas isu G30S/ PKI 1965 dan saat ini Kompas TV 13:30 tanggal ini mengulas kerukunan umat beragama. Yang terpantul dari kedua acara TV ini sama saja, “Minoritas dipaksa melupakan apa saja yang telah terjadi, dan menerima realitas terkini, dan kalaupun ada kesalahan-kesalahan, itu harus dilupakan, demi NKRI harga mati!” Saya paham, bahwa memang hak asasi manusia dikalahkan oleh hak negara Indonesia dalam hal ini. Maka saya terus

Yang sama di semua era, walau bagaimanapun kia semua dipaksa menerima sejarah dan apa-apa yang ada saat ini, ialah perlakuan negara, perangkat negara, keberpihakan negara kepada agama mayoritas yang berlebihan, sampai-sampai ada Nikah Agama, Pengadilan Agama, Urusan Haji, dan sebagainya diurus negara dan dianggarkan dengan uang Negara, melupakan banyak agama lainnya di Indonesia yang juga secara historis memberikan kontribusi besar untuk berdirinya NKRI, dan secara terus-menerus memberikan sumbangsing demi tegaknya NKRI, tetapi “dikeluarkan” dari urusan negara, dilupakan dalam departemen agama, dianggap tidak usah diurus.

Pada saat yang sama, kita dipaksa hidup rukun, bertoleransi, tetapi di saat itu pula negara tidak menunjukkan toleransinya. Ia sangat berat sebelah, ia menganak-emaskan yang satu, dan menganak-tirikan banyak lainnya yang minoritas. Kalau negara memaksa rakyatnya hidup rukun dan bertoleransi, kenapa negara sendiri diskriminatif dan in-toleran terhadap perbedaan dalam perlakuannya terhadap semua agama yang ada di Indonesia?

PapuaMandiribiz melihat ini sebagai sebuah dilema, yang lambat laun berbuah entah petaka atau berkah, tergantung bagaimana negara bersikap dan memperlakukan secara merata dan adil kepada semua agama yang ada di Indonesia.

Facebook Comments
tags: , , ,

Related For Negara ini Memang Begini dari Sononya, Kamu Yang Minoritas Terima Aja Apa Adanya