bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Fakta di Dunia: Miras Kebanyakan Menjadi Kesenangan Bangsa Budak

Monday, March 28th 2016. | Realita

Kita dapat berkunjung ke seluruh dunia, di mana pernah ada penjajahan dan pernah ada perbudakan, baik di Eropa, Afrika, Amerika, Asia dan Australia. Kita dapat dengan mudah bertemu dengan “bangsa budak”, atau “bangsa memenuhi syarat untuk diperbudak”, atau bangsa melarat di muka bumi dan dapat dengan mudah mengenal ciri khas pertama mereka ialah “suka miras”.

Ya, betul “Miras” dan bangsa budak, miras dan bangsa miskin, miras dan bangsa terjajah, misah dan keterbelakangan berhubungan langsung, karena di manapun Anda pergi ke seluruh penjuru dunia, Anda akan temukan, bangsa-bangsa di Eropa, Asia, Afrika, Melanesia, Australia, Australia yang pernah dan sedang dijajah, yang dianggap kelas kedua, yang merasa diri dijajah diwarnai oleh kesenangan, dan kebiasaan, dan warna “mabuk-mabukan” sampai tidur-tiduran di got, emperan toko dan pusat-pusat perbelanjaan.

Untuk di pulau Jawa, tidak usah terlalu jauh, kita baca berita, ada kematian karena Miras Oplosan yang dialami oleh orang Jawa maupun non-Jawa. Akan kita tahu langsung dengan mudah bahwa suku-suku yang mati tersebut ialah suku-suku yang termarjinalkan, terpinggirkan dan suku-suku yang dianggap “kelas kedua” di dalam masyarakat suku Jawa sendiri.

Dibandingkan kalau orang Papua yang mati karena Miras Oplosan di Pulau Jawa itu bukan cerita mengejutkan lagi, tetapi cerita “pantas” saja karena bangsa Papua selama ini dikenal dengan bangsa yang “senang miras”, “suka miras” dan “hobi miras”, bahkan “rakus miras”. Kita sering dipuji seperti ini, “Kalau Mas Jhon itu kuat, biar 10 botol masih belum goyang dia!”, lalu kita merasa diri kuat. Padahal kita sedang diberitahu bahwa kita “raksu miras”.

Ada beberapa bangsa di Eropa pernah dan masih dijajah, masih termarginalkan dan masih menganggap diri diperbudak. Ada juga di Afrika, walaupun apartheid sudah dihapus, meskipun perbudakan sudah berakhir, masih ada juga bangsa-bangsa yang merasa diri dianak-tirikan. Lebih-lebih terjadi di Kanada, Amerika Serkiat, Selandia Baru, Australia, yaitu negara-negara yang diduduki dan dirampas oleh orang Eropa dan dibentuk Negara Baru, padahal para penduduk Asli dibantai dan diperbudak. Silahkan saja hari ini Anda berkeliling ke negara-negara ini dan saksikan dengan mata-kepala sendiri, lihat ke pinggiran kota, para pengemis, para pamabuk, para perampok, para TAPOL, di penjara di kantor polisi, kebanyakan, mayoritas, hampir semuanya adalah para tuan tanah, para masyarakat adat, para orang setempat.

Mereka menjadi “terbelenggu” oleh memoria passionis yang mereka alami sepanjang sejarah mereka, dan mereka menjadi terjajah di dalam tanah leluhur sendiri. Mereka menjadi manusia termarjinalkan dan menjadi manusia pinggiran. Tidak banyak dari mereka berpendidikan, apalagi punya jabatan di dalam di sektor publik maupun swasta.

Anda tahu apa catatan dunia tentang Miras terbanyak yang dihabiskan di dunia ini berada di negara mana? Irlandia! Kenapa Irlandia? Ini negara Eropa pertama yang pernah dijajah Inggris dan sampai hari ini sebagian saja wilayah Irlandia sudah merdeka dan sebagiannya masih berjuang untuk meraih kemerdekaan. Mereka hidup dengan penuh kepahitan selama berabad-abad lamanya. John F. Kennedy, Bill Clinton adalah dua orang yang punya nenek-moyang orang Irlandia.

Mengapa bangsa ini tercatat penknsumsi Miras terbanyak di dunia?

Yang paling logis dan paling cepat untuk dapat kita katakan ialah, bahwa bangsa ini sudah berabad-abad dijajah dan diperbudak, mereka memberontak dengan cara menghibur diri dengan Miras, dan lama-kelamaan, Miras menjadi seperti minuman biasa, bukan Miras lagi.

Bangsa Papua harus mengakui kepada diri sendiri, bahwa selama ini punya rasa “sakit hati” terhadap pendudukan Indonesia di atas Tanah Papua. Siapapun punya rasa “tidak terima”, bahkan sampai “rasa benci” terhadap orang Indonesia. Ini bukan sebuah pandangan politik, bukan reaksi rasis, atau masalah pilihan, tetapi ini realitas mutlak, berdasarkan memoria passionis dan penelusuran serta diskusi tertutup dan terbuka yang dilakukan sehari-hari di antara orang Papua sendiri.

Di atas akar masalah ini, banyak pelanggaran HAM terus saja terjadi di Tanah Papua, banyak uang dikuncurkan ke Tanah Papua tetapi kebijakan ekonomi, sumber-sumber keuangan dan titik-titik kekuatan ekonomi, kepala-kepala dinas dan pemimpin-pemimpin perusahaan masih saja dikuasai pihak non-Papua. Sekarang hitung saja di Provinsi Papua, gubernur orang Lani, Wagub orang Amungme, Kepala Dinas Orang Lani dan Amungme Berapa, Sekda Orang Mana, para Asisten orang-orang dari mana? Ini semua menjadi pertanyaan dan menjadi sumber “kedongkolan” orang Papua.

Kedongkolan-kemarahan ini menumpuk dan dia mencari pemicu untuk pelampiasan. Dan biasanya Miras dianggap oleh “fisik” dan “psikologi” manusia sebagai cara terbaik untuk melampiaskannya. Coba rekam orang Papua yang sudah terkena pengaruh miras, mulai dari pucuk sampai ke hutan, semua akan bicara satu hal saja menyangkut Tanah Papua dan bangsa Papua.

Dengan Perda Miras yang akan segera disahkan untuk Provinsi Papua, kita harus berani memerdekakan diri dari mentalitas budak, mentalitas kaum terjajah, mentalitas yang penuh dengan kedongkolan dan kebencian, yang menyebabkan hidup kita sebagai sebuah bangsa dan kaum menjadi hilang arah, terombang-ambing dan merana kemana-mana, mengikuti gelombang laut permainan global.

Kita harus bangkit! Papua Bangkit! sudah dicnangkan dan sudah menjadi Fokus Berita di surat kabar Online maupun Online di Tanah Papua. Semua orang tahu, bahwa nenek-moyang kita-pun tahu, bahkan makhluk lain sudah tahu, Papua mau bangkit, tetapi apa buktinya? Sudah ditulis dalam blog ini, pertama-tama kita harus merobab paradigma berpikir kita orang Papua sendiri, cara melihat diri sendiri, cara melihat sesama, dan cara melihat alam-semesta. Dengan perubahan paradigma, maka mentalitas dan pendekatan kita terhadap berhagai hal yang mewarnai kehidupan kita akan berubah. Termasuk menghentikan kebiasaan minum Miras atau melepaskan diri dari perbudakan Miras merupakan tindakan nyata yang perlu kita ambil dari paradigm shifting yang harus terjadi di dalam diri kita yang terbukti dalam tindakan memerdekakan diri dari alkohol.

Semua Perda pelarangan Miras Lukas Enembe – Klemen Tinal menjadi tonggak sejarah kebangkitan bangsa Papua, sehingga tonggal sejarah ini akan diingat dalam memperingati sejarah bangsa ini, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Amin!

 

Facebook Comments
tags: , , , , , , ,

Related For Fakta di Dunia: Miras Kebanyakan Menjadi Kesenangan Bangsa Budak