bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Orang Asli Papua terbelenggu oleh Dirinya Sendiri

Saturday, March 19th 2016. | Perspektif

OAP selama ini memandang dirinya terbelenggu, oleh karena itu banyak slogan dan visi-misi pembangunan oleh banyak Kepala Daerah dan Gubernur dikuncurkan. Dulu ada slogan “Kaka Bas pulang Kampung!”, ada istilah “Ninai Arigi!”, “Ada juga “Yogotak Kubuluk Motok Hanorogo!”, “Ada lagi “Papua Bangkit!, mandiri dan sejahtera!” semuanya ini menunjukkan fakta bahwa Papua pada saat ini, pada saat dikeluarkan visi misi dan slogan ini, masih ada di tempat yang salah, masih belum mencapai tujuannya, yagn dalam bahasa kasarnya ialah masih terbelenggu.

Kalau kita ambil kata “terbelenggu” keluar dari berbagai slogan ini, sebegai pemicu kemunculan berbagai slogan dan visi-misi, maka kita harus bertanya kepada diri sendiri, siapa yang membelenggu? dan apa belenggunya?

Ada banyak versi jawaban, dari sisi politik, ekonomi, sosial, budaya.

Dalam tulisan ini kita hendak melihat sedikit dari sisi “belenggu dari diri OAP sendiri”, yaitu belenggu buatan sendiri. Tanpa kita sadari, kita sering melupakan belenggu ciptaan sendiri dan menganggap belenggu dari luar itulah sebagai belenggu dan belenggu ciptaan sendiri sebagai modal hidup atau sebagai tidak apa-apa. Untuk Papua Bangkit! mandiri dan sejahtera, kita harus melepaskan belenggu-belenggu ini terlebih dahulu, dari diri kita, oleh diri kita sendiri. Inilah wujud kebangkitan orang Papua.

Belenggu utama dan pertama disebabkan oleh dilema dalam hidup seorang Papua, dalam rangka mengidentifikasi dirinya. Dia terbelenggu oleh dua sisi realitas dalam hidupnya, di satu sisi sebagai OAP, dan disisi lain sebagai ker-KTP Indonesia. Dia bingung, apakah dia orang Indonesia atau orang Papua. Di mulutnya dia mengaku orang, di KTPnya tertulis warga negara Indonesia. Di antara orang Papua dia mengaku orang Papua, dengan masyarakat Indonesia lainnya dia memilih diam. Sejauh mana ke-Papua-an orang Papua dapat kita bentangkan? dan sejauh mana ke-Indonesia-an orang Papua dapat kita masukkan? menjadi sebuah pertanyaan yang saya, Jhon Yonathan Kwano sendiri masih belum mampu menjawabnya. Bagi ilmuwan social-engineering akan mengatakan, “Kita tunggu 100 tahun lagi, nanti pasti semua orang Papua sudah lupa identitasnya sebagai orang Papua dan di tanah ini semua orang Papua sudah tidak ada, jadi jangan jawab sekarang dulu!” Tetapi dari sisi humanisme saya menyerukan, “Jangan terbelenggu oleh pergumulan di benakmu sendiri. Anda harus keluar sebagai orang Papua, yang ada sebagai warga negara Indonesia. Identitas ke-manusiaan dan identitas ke-warga-negaraan harus kita pisahkan, sehingga kita mampu membedakan ke-Papua-an dan ke-Indonesia-an kita.

Belenggu kedua ia terbagi di antara orang Kristen atau orang Papua, orang Islam atau orang Papua. Ke-Kristen-an dan ke-Islam-an orang Papua, yang berkewarga-negaraan Indonesia membuat kita semua menjadi serba salah dalam menjalani hidup sebagai orang Papua. Kita mau bergerak dan berbicara atas nama Papua, atas nama Indonesia, atas nama Islam, atas nama Kristen. Pada saat sebuah peristiwa terjadi, kasus tabrak lari, kasus penganiayaan di Kota Jayapura, dengan mudahnya kita lihat masyarakat kita mengkaitkan seseorang dengan identitas agamanya. Agama juga terlalu luas, kaitan diri seseorang Papua dengan denominasi gereja juga menjadi belenggu dalam benak orang Papua. Ada pernyataan atau pertanyaan seperti “Gubernur orang GIDI, Ketua DPR Orang GIDI” dan sebagainya seolah-olah identitas saya diukur dengan keanggotaan dalam organisasi agama.

Belenggu ketiga, yang paling nampak hari ini, ialah belenggu “Papua M” dan “Papua O” atau Papua Bintang Kejora dan Papua Merah-Putih. Semua orang Tahu Ramses Ohee itu Panglima Merah-Putih, sang Eurico Gueteres-nya Papua. Apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan belakangan ini, sejak tahun 2000 diwarnai oleh keberpihakan orang Papua terhadap entah itu Papua Merdeka atau NKRI. Siapapun kita, gubernur, bupati, camat, kepala kampung, pendeta, ustadz, pastor, kita mudah diidentifikasi sekarang, apakah orang “O” atau orang “M” dan kita jalan kesana-kemari dengan cap-cap ini di otak kita masing-masing. Yang O bersikap hati-hati, yang M juga bersikap hati-hati dalam apapun yang terjadi dalam hidup ini. Kita membelenggu diri kita sendiri dalam kota M dan O.

Kebangkitan orang Papua ialah membawa diri keluar dari ketiga belenggu ini, memerdekakan dirinya dari belenggun ciptaan dirinya sendiri. Ia, anda, saya, kami, kita harus berdiri sebagai “orang Papua”, dan berpikir, bertutur-kata, bertindak sebagai orang Papua. Kita harus menjadi “Orang Papua tanpa embel-embel”, itu baru kita bangkit, kebangkitan kita sebagai orang Papua.

Ini langkah kebangkitan bangsa Papua menuju kendirian dan kesejahteraan sebagaimana dimaksud Gubernur Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Klemen Tinal.

Facebook Comments
tags: , , ,

Related For Orang Asli Papua terbelenggu oleh Dirinya Sendiri