bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Orang Papua Harus di-Asses dengan Kacamata Papua

Monday, October 10th 2016. | Perspektif

Orang Papua harus dilihat dan dinilai oleh para pejabat negara Indonesia dan masyarakat pelaku usaha, pemegang kekuasaan di Tanah Papua dengan kacamata orang Papua sehingga dapat berbuat untuk kebangkitan dan kemandirian orang Papua.

Kesimpulan muncul berdasarkan pengalaman hampir sepuluh tahun terakhir di mana kami sebagai pengusaha entrepreneur orang Papua mengalami kesulitan mendapatkan dukungan KUR atau dana bentuk apapun, entah sebagai pinjaman ataupun sebagai investasi dari berbagai pihak.

Setelah kami bertanya-jawab dengan berbagai pihak, khususnya dengan para pengusaha di pulau Jawa, jawaban yang paling  utama dan pertama muncul ialah, “bahwa orang Papua belum dipercaya dapat mengelola keuangan, apalagi menjadi pengusaha.”

Itu kesan umum, itu kesimpulan umum, itu gambaran umum, itu cap yang telah melekat pada diri orang Papua.

Hampir sepuluh tahun terakhir kami sudah muncul di pentas entrepreneur Papua dengan bisnis Kopi Papua. Kami sudah dikenal di mana-mana. Tetapi dari sisi kepercayaan pihak investor dan sumber-sumber ekonomi serta sumber-sumber kekuasaan di Tanah Papua masih sangat rendah, bahkan tidak ada sama sekali.

Secara teori, pemerintah hadir untuk menghadirkan fasilitas dan akses kepada berbagai layanan. Negara hadir sebagai pelindung dan fasilitator, jembatan, pemberi akses kepada pasar lokal, nasional dan internasional. Pemerintah bukan pengurus politik. Negara hadir untuk kemajuran ekonomi rakyat. Kalau negara hadir hanya untuk urus politik, rakyat mana yang mau tunduk kepada negara yang hanya mengurus kepentingan negara sendiri, dan mengabaikan kepentngan rakyat?

Nasib entrepreneurship di Tanah Papua seperti anak yatim piatu, anak terlantar. Dibiarkan mengembara, mencari jalan sendiri, dan kalaupun dapat bertahan dan hidup, itu syukur-syukur.

Lalu kita bertanya di mana uang-uang Otsus yang jumlahnya trilyunan yang katanya Jakarta sudah kirim ke Tanah Papua? Apakah hanya dipakai untuk bayar hutang-hutang politik kepada partai politik? Apakah hanya untuk bangun jalan Trans Papua yang memuluskan pengerukan kekayaan alam?

Seharusnya pemerintah dan pemegang kekuasaan serta sumber-sumber keuangan dan ekonomi di Tanah Papua melihat pengusaha Papua dari kacamata Papua. Kalau tidak, orang Papua akan terus menganggap kehadiran Indonesia tidak jauh berbeda daripada sekedar mencari kekayaan alam Papua. Itulah yang disebut penjajahan, karena penjajah tidak pernah datang untuk memabngun daerah jajahan dan apalagi bangsa yang dijajah, tetapi mereka datang untuk mengeruk dan membawa keluar kekayaan alam setempat. Dan bila perlu menguasai dan menduduki wilayah orang lain. Itulah yang disebut “colonisation”, penjajahan.

 

Facebook Comments

Related For Orang Papua Harus di-Asses dengan Kacamata Papua