bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Papua Bangkit Secara Mental: Apa Wujudnya?

Saturday, March 12th 2016. | Perspektif

Walaupun kebangkitan Papua sering diartikan dari sisi ekonomi dan sosial-politik, saya Jhon Yonathan Kwano lebih tertarik dengan kebangkintan Papua secara mental, spiritual, emosional dan psykologis, yaitu bangkit sebagai orang Papua, berpikiran Papua, bermental Papua, berdiri atas nilai dan norma Papua, dan bertindak untuk kepentingan Papua. Ini luas sekali. Akan tetapi satu aspek, dan aspek utama daripada banyak aspek kemandirian ini ialah: mandiri secara mentalitas orang Papua sendiri. Nah, sekarang apa contoh kasus mentalitas orang Papua yang sudah bangkit?

  1. Yang pertama, orang Papua yang mentalitasnya sudah bangkit tidak akan selalu menyalahkan Jakarta kalau ada sesuatu yang salah di Tanah Papua, atau dengan Orang Asli Papua (OAP).
  2. Kedua, orang Papua yang sudah ‘bangkit mentalnya’ tidak akan ikut-ikutan dengan irama orang lain.
  3. Dan ketiga, orang Papua yang mentalnya sudah bangkit akan lebih peka dan lebih cepat-tanggap terhadap kebutuhan dan suara orang Papua, entah itu suara petani kopi, pedagang mama-mama Papua, petani buah merah, entrepreneur Papua seperti kebutuhan di PAPUAmart.com, dan sejenisnya.

Sekarang mau bertanya, sebuah pertanyaan menyangkut topik hangat pertengahan Maret 2016:

  • Kalau Otsus gagal, salahnya siapa?
  • Kalau Otsus berhasil, bernarnya siapa?
  • Kalau Otsus dilanjutkan atau dikembalikan, untung-ruginya apa dan siapa?

Bagi saya, kalau Otsus dikembalikan sebagai wujud kemandirian Orang Papua, yang tidak mau dimanja dan dianak-emaskan atau dianak-tirikan, tergantung apa pandangan Anda, maka itu merupakan bukti kuat bahwa Papua sudah bangkit, dan dengan demikian mampu mandiri.

Tetapi jangan kita mau kembalikan Otsus karena ada yang kurang, dengan cara menyalahkan Jakarta atas apa yang Jakarta telah lakukan. Kita sebagai pejabat dan masyarakat Papua harus berpotret kepada diri sendiri, dan menyadari bahwa sesungguhnya ada banyak hal yang telah dilakukan Jakarta untuk menutupi rasa-malu atas perlakuannya kepada bangsa Papua selama ini (saya tidak sebut dalam rangka membantu atau dengan dasar niat baik Jakarta).

Alasan kita harus benar: Apakah bukti kemandirian, ataukah bukti cengeng, minta tambah? Kalau yang kedua ini, maka sesungguhnya Papua Mandiri belum nampak, apalagi Papua Mandiri!

Pak Gubernur Papua, Lukas Enembe mungkin punya argumen kuat bahwa dengan pendanaan yang cukup, lebih daripada yang ada, dan dengan kewenangan yang lebih luas untuk mengelola kekayaan yang ada di Tanah Papua, maka Papua akan bangkit dan mandiri. Ini juga benar.

Akan tetapi berdasarkan filsafat Lani, dan prinsip dasar Alkitab, saya mau katakan dengan terus-terang, marilah kita tunjukkan kebangkitan kita dan kemandirian kita dengan selalu bersyukur kepada Tuhan, selalu memuliakan namanya, dengan apa yang telah ada, apa yang telah kami miliki, dan bertanggung-jawablah 80%, karena manusia tidak mungkin sempurna 100%, atas dana yang diberikan NKRI kepada provinsi di Tanah Papua.

Barangsiapa setia dalam perkara yang kecil, ia juga pasti akan setia dalam perkara yang besar. Barangsiapa bertanggungjawab atas kuncuran dana Otsus dan kewenangan yang kecil, ia juga akan setia dalam kuncuran dana dan tanggungjawab yang lebih besar.

Kita lanjutkan ke pokok kedua, kalau Papua sudah bangkit dan mandiri, dia tidak akan ikut-ikutan irama Jakarta. Saya perlu sebutkan bahwa Gubernur Lukas Enembe cukup membuktikan diri sebagai gubernur yang sudah bangkit karena bertindak mandiri semi masyarakat Papua. Banyak sekali kebijakan Jakarta ditolak, tidak digubris karena Lukas Enembe merasa tidak pas, salah sasaran atau merugikan.

Aspek lain, menyangkut kebijakan di bidang bisnis dan entrepreneurship di Tanan Papua seharusnya diarahkan kepada kemandirian Orang Asli Papua sehingga OAP menjadi kaya-raya di negerinya sendiri. Bank Papua perlu bergerak lebih dinamis sebagai motor penggerak perekonomian Tanah Papua. PAPUAmart.com dalam kurun waktu 7 bulan saja sudah membuka minimarket kedua di Pertigaan Jalan Post 7 Sentani, dengan memunculkan branding usaha baru bernama BANANA Leaf Cafe  (Kafe Daun Pisang). Pemerintah Provinsi Papua seharusnya menjemput inisiatif dan rintisan yang dilakukan oleh orang Papua sendiri di lapangan. Jangan terlalu banyak berteori dan mengharap Jakarta melakukan sesuatu untuk kepentingan orang Papua.

Orientasi bisnis dan entrepreneurship di Tanah Papua sepatutnya mengarah ke kawasan Melanesia, bukan ke wilayah Melayu karena di sinilah tempat kita, itulah kita sendiri dan dari situlah kita hidup. Itu baru kita bisa bilang orang Papua atau tanah Papua sudah bangkit dan menuju kemandirian.

Dengan singkat kata, saya, Jhon Yonathan Kwano mau  katakan kepada Gubernur Lukas Enembe, bahwa untuk menunjukkan kemandirian orang Papua, maka kita harus punya lagu sendiri, kita nyanyikan lagu itu sendiri, kita sebagai orang Papua secara bersama-sama. Itu baru akan nampak kita mandiri dalam berpikir dan bertindak. Tetapi kalau kita masih menyanyikan lagu dengan nada dan dirigen dari Jakarta, maka kemandirian kita, apalagi kebangkitan Papua sama sekali nihil.

Bukti ketiga kebangkitan menuju kemandirian orang Papua ialah sikap dan tindakan “cepat-tanggap” terhadap aspirasi dan suara orang Papua oleh para pejabat di Provinsi maupun Kabupaten.

Saya mau jujur katakan, mari kita tinggalkan emosi, kedongkolan, penyesalan kepada NKRI. Mari kita tinggalkan rasa curiga, ragu-ragu bertindak, kebimbangan dalam mengambil langkah, takut diinikan dan diitukan, dan sebagainya dan seterusnya. Mari kita bangkit! Mari kita menunjukkan diri sudah mandiri! Mari ambil langkah-langkah konkrit, dengan mendengarkan langsung suara rakyat di akar-rumput. Mari kita tanggapi langsung inisiatif orang Papua di lapangan, seperti contoh pendirian Kios KKLingkar.com, minimarket PAPUAmart.com dan Cafe BANANA Leaf yang dirintis dipeopori oleh KSU Baliem Arabica.

Kalau kita mau disuap terus semua program dari Jakarta, kalau kita mau mengambil langkah kalau langkah kita itu aman di mata Jakarta, atau membuat Jakarta menjadi senang dan memuji, dan kalau kita kurang peka terhadap realitas kehidupan dan kebutuhan orang Papua saat ini, maka saya hampir pasti dapat katakan bahwa kebangkitan orang Papua yang diamksud Lukas Enembe itu hampir percuma. Saya tidak mau katakan memalukan, karena sudah ada sebagian bukti, tetapi belum cukup.

Dengan menyanyikan lagu-lagu Papua, irama Papua, langkah OAP di lapangan, langsung turun dan wawancara, langsung bertemu dan mengatur langkah ke depan, tanpa embel-embel protokoler dan ajudhan, yang nyata-nyata mengikat dan memagari, mematikan kembali kebangkitan orang Papua itu sendiri, mari kita tunjukkan bahwa Papua Sudah Bangkit! dan Papua Siap Mandiri!

Kalau minimal tiga wujud kebangkitan orang Papua ini tidak serius ditangani, atau ditekuni, maka saya jamin, kita semua akan menyesal punya Gubernur Lukas Enembe sebagai orang pertama dari Pegunungan Tanah Papua yang menjadi Gubernur. Kita semua juga akan menyesal, mengapa visi/ misi Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera! harus dicanangkan, tanpa mengukur kemampuan mentalitas, psykologi, rohani dan emosional secara dini?

Facebook Comments
tags: , , ,

Related For Papua Bangkit Secara Mental: Apa Wujudnya?