bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Saya Jhon Yonathan Kwano Berpendapat, Orang Papua Tidak Harus Menjadi Orang Indonesia

Sunday, January 10th 2016. | Perspektif

Menanggapi Ucapan Gubernur Papua Lukas Enembe: Belum Ada Orang Papua Berjiwa Indonesia

Menanggapi berbagai isu tentang meng-Indonesia-kan Papua, Jhon Kwano angkat bicara. Khususnya dalam hal ini menanggapi judul berita yang diturunkan Tempo.co yang menyatakan Gubernur Papua Lukas Enembe bilang “Belum Ada orang Papua Berjiwa Indonesia”. Atau dengan kata lain, belum ada orang Papua yang berhasil di-Indonesia-kan, atau “Belum ada orang Papua yang murni Indonesia”, atau “belum ada orang Asli Papua cinta Indonesia”.

Saya mau berterus-terang, bahwa kalau memang kita membangun Indonesia dalam bingkai yang bertuliskan “Bhineka Tunggal Ika”, maka paradigma berpiki kita, baik Papua maupun Jakarta tentang “ke-Papua-an” dan “ke-Indonesia-an” harus dirombak dan dibangun ulang. Tidak-lah bijak dan bertenangan dengan Bhineka Tunggal Ika bilamana kita berjuang mati-matian meng-Indonesia-kan berbagai suku-bangsa di Indoneia menjadi satu warna, yang hasilnya ialah warna kehidupan tanpa selera dan lebih serius bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika. Kita harus merubahnya menjadi Tunggal Ika Tunggal Ika.

Yang harus kita perjuangkan ialah mengidentifikasi, menghargai dan melindungi jatidiri Papua dan ke-Papua-an seutuhnya sebagai Papua, di Tanah Papua. Dengan pengakuan, penghargaan dan perlindungan ini-lah, maka akan tercipta sebuah kehidupan yang saling menghargai dan saling mengakui. Inilah yang disebut Unity in Diversity.

Dalam perspektif ini, maka menciptakan atau mencari orang Papua berjiwa Indonesia bukanlah sasaran kita, tetapi kita harus berjuang untuk mengakui, memelihara dan melindungi Papua di dalam Indonesia. Otonomi Khusus diberikan dalam kerangka dan dengan tujuan kekhususan kepada budaya Papua, ras Melanesia di pulau New Guinea Bagian Barat. Maka melihat Orang Asli Papua berjiwa Indonesia bukanlah pandangan yang tepat, melainkan kita harus melihat Orang Asli Papua yang membela dan mempertahankan jatidiri Papua, dan menghargai itu sebagai sebuah fakta yang harus kita akui. Mengakui dan melindungi ke-Papua-an tidak serta-merta berarti memperjuangkan Papua Merdeka. Karena keduanya sama bedanya antara siang dan malam.

Membangun ke-Papua-an di dalam Indonesia ialah sebuah pandangan yang bijak dan arif, yang dalam jangka panjang menjadi modal yang sangat berarti dalam membangun Indonesia yang majemuk berdasarkan Pancasila.

Tindakan membabi-buta, pandangan membabi-buta atas nama NKRI harga mati, Sumpah Pemuda dan sejenisnya sama persis dengan menciptakan bom waktu, yang ada gilirannya pasti meledak. Karena setiap manusia, setiap ras, setiap bangsa di dunia ini punya harga diri dan martabat, yang sebagai ekibatnya secara alamiah dan intrinsic, akan selalu berjuang untuk memperjuangkan eksistensinya dan membela identitasnya. Kita tidak harus pertentangkan Papua – Indonesia saja, tetapi Jawa – Indonesia, Batak – Indonsia, Bugis – Indonesia, Dayak – Indonesia juga akan mendapati tanggapan yang sama. Ke-Indonesia-an harus dibangun di dalam keberagaman.

Bukan jiwa Indonesia yang kita perlu di Tanah Papua, tetapi jiwa Papua yang kita butuh, karena ke-Papua-an itu-lah yang kita sebut sebagai modal dasar pembangunan Indonesia.

Apalagi wawancara Wartawan Tempo.co ini menghubungkan judul artikel ini dengan berbagai gerakan pemuda Papua memperjuangkan Papua Merdeka. Jhon Kwano berpendapat, bahwa para wartawan juga jangan menyulut-nyulut api, tetapi seharusnya berusaha memadamkannya. Bagaimana cara memadamkannya?

Cara memadamkannya ialah dengan membaca isi hati Gubernur Papua. Misalnya, coba Investigative Journalism Tempo.co mengungkap apa yang ada di balik layar atas penculikan dan pembunuhan Theys H. Eluay. atau kalau itu terlalu berat dan sangat politis, coba saja melakukan investigative journalism atas banyak perang suku yang timbul di Timika, dan menemukan siapa sebenarnya yang ada di balik semua peristiwa ini.

Dengan cara seperti ini, wartawan Tempo.co bukannya berputar-putar dalam isu-isu dampak, tetapi langsung ke akar dan batang pohon masalah di Tanah Papua. Keberpihakan media haruslah jelas, apakah memancing-mancing apa yang ada di dalam hati orang Papua, ataukah bertujuan menuntaskan berbagai persoalan yang ada di Tanah Papua sampai ke akar-akarnya demi meneguhkan kehadiran Indonesia di atas Tanah Papua.

Pertanyaan-pertanyaan Tempo.co yang hanya berputar-putar kepada dampak atau buah dari persoalan sebenarnya menunjukkan kepada Papua Jhon Kwano bahwa paradigma berpikir para wartawan dan skenario pemberitaan media di Indonesia perlu dirombak sejalan dengan revolusi mental yang digalakkan Presiden Indonesia Joko Widodo. Menurut Kwano, harus ada grand design media di Indonesia yang membantu dan mengarahkanpara wartawan dan pemberitaan media di Indonesia yang secara obyektif dan menyeluruh menggali informasi dan menyiarkannya kepada publik. Menurut Kwano

Tujuan akhir dari pemberitaan dan pertanyaan-pertanyaan harus diarahkan kepada memelihara kebhinekaan, menghargai dan melindungi anugerah Tuhan yang sudah ada sebelum kehadiran NKRI ke muka Bumi, daripada memaksakan apa yang dibuat manusia dan dengan demikian bertujuan merombak realias buatan Tuhan dimaksud. Yang dibuat manusia saat ini pada akhirnya harus tunduk kepada hukum alam buatan Allah, karena itu ke-Indonesia-an ataupun ke-Papua-an haruslah tunduk kepada realitas geografis, sosio-budaya dan sosio-politik yang ada. Jiwa ke-Indonesia-an orang Papua tidak perlu kita paksakan harus ada di dunia. Yang harus kita gali ialah jiwa ke-Papua-an orang Papua di dalam Indonesia.

Facebook Comments
tags: , , , ,

Related For Saya Jhon Yonathan Kwano Berpendapat, Orang Papua Tidak Harus Menjadi Orang Indonesia