bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

UP2KP: sejumlah dokter spesialis tinggalkan RSUD Jayapura

Friday, August 12th 2016. | Realita

Jayapura (Antara Papua) – Direktur Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) Agustinus Raprap menyebutkan sejumlah dokter spesialis memilih meninggalkan tempat tugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, karena di rumah sakit itu tidak ada peralatan pendukung penerapan spesialisnya dalam penanganan pasien.

Kepada Antara di Jayapura, Jumat, Agustinus mengatakan pada 2014 Menteri Kesehatan mencanangkan RSUD Jayapura sebagai rumah sakit rujukan nasional.

“Itu berarti sudah standar nasional, dokter-dokternya sudah diketahui, kualitasnya juga sudah diketahui, dan pelayanan kesehatannya tidak jauh berbeda dengan pelayanan kesehatan di luar Papua,” ujarnya.

Tetapi, lanjut Agustinus, yang menjadi persoalan adalah sarana kesehatan atau alat-alat kesehatan/peralatan penunjang yang kurang mendukung para dokter spesialis untuk menerapkan ilmu yang digeluti, sehingga sejumlah dokter spesialis memilih “eksodus”.

“Kalau eksodus itu mutasi besar-besaran, sebenarnya tidak seperti itu, tetapi karena ini penting maka saya bilang eksodus begitu, ada beberapa dokter spesialis yang terpaksa minta mutasi,” ujarnya.

Agus menjelaskan, pada 2014 salah satu dokter spesialis bedah tumor yakni dr. William, yang bertugas di RSUD Jayapura.

Wiliam merupakan satu-satunya dokter spesialis beda tumor di rumah sakit Jayapura, tetapi karena fasilitas penunjang penerapan spesialisnya di rumah sakit dalam penanganan pasien tidak ada, sehingga ia meminta untuk pindah ke luar Papua.

“Sudah banyak dokter spesialis yang juga sudah minta pindah karena tak ada fasilitas penunjang penerapan spesialisnya terhadap pasien, di antaranya dr.Alban Jem. Padahal kasus tumor ini kan sangat banyak di Papua dan kasus itu cukup tinggi, tetapi karena tidak ada fasilitas pendukung di rumah sakit akhirnya dokter spesialisnya pindah, dokter spesialisnya minta pindah karena tidak ada alat pendukung penerapan spesialisnya,” ujarnya.

Dengan demikian, dr William menjadi dokter terbang untuk melakukan penanganan kesehatan di rumah sakit yang memiliki alat pendukung penerapan spesialisnya ketika itu hingga pindah ke luar Papua.

Kini, dr Tigor Letsoin, spesialis saraf dan sub spesialisnya adalah bedah pembuluh darah di RSUD Jayapura, namun tidak ada fasilitas pendukung penerapan spesialis maupun sub spesialisnya sehingga ia mengajukan pindah ke luar Papua.

“Sudah dua tahun pihak rumah sakit mengajukan peralatan pendukung spesilis maupun sub spesialis dari dr Tigor, di antaranya “kat-tleb” atau mesin untuk mendeteksi dan melakukan tindakan untuk pembuluh darah dan jantung, sudah dua tahun diajukan oleh rumah sakit namun hingga kini peralatan itu tidak diadakan,” ujarnya.

Akhirnya, kata dia sudah dua tahun spesialis dan sub spesialisnya tidak diterapkan, selama dua tahun ilmu spesilisnya tidak diterapkan dan dirasa sia-sia.

Karena sudah dua tahun dr.Tigor tidak menerapkan ilmunya akhirnya ia mengajukan pengunduran diri, kalau ada rumah sakit yang punya alat itu maka ia akan pindah ke rumah sakit yang bersangkutan.

“Kalau dirujuk kan biayanya besar, biaya medisnya besar, non medisnya juga besar, padahal dokter spesialisnya ada di Papua khususnya di Jayapura, tetapi karena tidak difasilitasi peralatannya, bahkan tidak ada sama sekali, akhirnya dirujuk,” ujarnya. (*)
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Facebook Comments
tags: , , ,

Related For UP2KP: sejumlah dokter spesialis tinggalkan RSUD Jayapura