bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Papua Sudah, Sedang, atau Mudah-Mudahan Akan Bangkit?

Thursday, December 14th 2017. | Perspektif

Saya bertanya kepada diri sendiri, tidak bermaksud bertanya kepada siapa-pun. Tetapi saya menuliskan pertanyaan dan jawaban saya di blog ini dalam rangka membantu kita semua melihat realitas secara faktual, dengan cara membawa keluar diri kita dari kacamata suku, bangsa, dan golongan apapun yang melekat pada diri kita dalam kaitannya dengan yang melekat kepada para pejabat pemerintahan di Tanah Papua.

Jawaban cepat dari saya atas pertanyaan ini ialah, “Mudah-mudahakan Papua akan bangkit!”

Silahkan baca artikel saya sebelumnya, di blog ini ataupun blog lain seperti www.papua.one, www.papua.news dan www.papua.ws. Di berbagai blog ini saya memberikan banyak harapan dan pujian kepada pemerintahan provinsi saat ini, dibawah kepemimpinan Lukas Enembe dan Klemen Tinal. Benar, saya lakukan itu berdasarkan suasana pada waktu itu.

Sekarang saya berada di akhir tahun 2017, di mana tahun depan ialah tahun politik, di mana masyarakat Papua harus memberikan mandat keapda salah satu kandidat yang akan bersaing di Pemilukada 2018.

Pejabat Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini sudah hampir memenangkan dukungan dari semua partai politik yang ada di Provinsi Papua. Ini sebenarnya tidak elok bagi pesta demokrasi, karena demokrasi tidak dapat dipastikan berjalan baik atau tidak ketika hanya calon tunggal yang bersaing dalam sebuah pesta demokrasi.

Benar, saya sudah katakan Papua Sudah Bangkit pada beberapa waktu lalu. Saat itu saya bersemangat karena ada Pakta Integritas tentang pelarangan Mirash di Tanah Papua yang dideklarasikan dan disemangati langsung oleh Gubernur Provinsi Papua. Kenyatannya apa? Saya selalu berjualan di Minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani – Abepura, tepatnya di Hawai, Sentani, dan setiap malam ada saja orang Papua mabuk yang masuk beli rokok, bahkan paksa kami untuk berjualan Miras, dan bahkan mengancam kami kalau tidak berjualan miras mereka akan bikin kacau.

Toko kami berada di jalan raya, pasti Gubernur dan pejabat semua yang ada di Provinsi Papua harus lewat jalan ini. Siang dan malam, manusia Papua muka-muka mabuk pasti ada di situ. Tetapi ini dibiarkan begitu saja? Apakah kami harus mengusir pelanggan kami? Bukankah sudah ada satgas dibentuk dengan biaya yang jelas untuk mengatasi ini?

Dengan melihat kondisi ini, keyakinan kami tentang Papua Bangkit menjadi lemah kembali. Dan kami malah harus katakan Papua Bangkrut, bukannya bangkrut apa-apa, tetapi bangkrut secara moral dan kepribadiannya.

Kalau Papua bangkrut secara moral kepribadian, tidak bisa mengendalikan diri dari kerakusan mabuk-mabukan, maka hukum ekonomi “supply-demand” tetap berlaku: selama orang Papua mencari-cari dan mencintai Miras, selama itu siapapun pengusaha akan berusaha menyediakannya”. Ini hukum pasar.

Melarang pengusaha miras berhenti berjualan miras memang salah satu solusi, tetapi lebih dari itu, membantu dan memampukan orang Papua untuk berhenti, dan bahkan MEMBENCI Mirash ialah pekerjaan rumah dari Gubernur periode mendatang. Hanya itu, kelihatannya, akan menunjukkan kebangkitan Papua.

Papua Bangkit! jangan dilihat dari gerbang-gerbang Emas, Perak, Perunggu, Batu, dan sebagainya yang dibuat oleh Gubernur Provinsi Papua, yang konon katanya menjadi gerbang-gerbang korupsi (maaf, belum terbukti tetapi isu ini sudah mengemuka dan sudah merambat ke mana-mana).

Papua Bangkit! juga tidak cukup dilihat dari sisi berapa orang Papua mendapatkan proyek pemerintah setiap ada proyek pemerintah dikuncurkan.

Papua Bangkit! harus lebih dilihat dari mentalitas dan spirit orang Papua, “Apakah orang Papua sudah merdeka, atau belum?” Merdeka dari rasa takut adalah yang pertama dan utama. Kalau ada orang Papua masih takut dibunuh oleh polisi atau tentara, masih takut disebut koruptor dan separatis, masih takut dicap ini dan itu, maka orang Papua perlu bangkit dari rasa takut.

Rasa takut selama ini dipakai dengan baik oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab untuk memagari kreatifitas dan ekspresi sepenuhnya dari diri orang Papua. Oleh karena itu, Papua Bangkit! harus kita buktikan dengan berkata-kata apa adanya, dan bersikap serta berperilaku sesuai kenyataan, tidak munafik, tidak asal bapa senang, sehingga kita tidak bersalah di dunia dan di akhirat tidak dianggap orang berdosa.

Selain itu, Papua Bangkit! juga harus dibuktikan oleh orang Papua sendiri lewat tindakan-tindakan yang jelas, membuang kebiasaan-kebiasaan yang merugikan diri, jatidiri, dan harga diri bangsa Papua. Kita harus tahu, di mata masyarakat umum di Indonesia, orang Papua itu nomor satu emosional, nomor dua pemabuk, nomor tiga pemalas, nomor empat rakus perempuan, nomor lima gemuk-gemuk kaya sapi piaraan.

Ini stigma-stigma yang pasti menggangu nalar sehat kita. Tetapi kita sebagai sebuah bangsa yang merdeka, bangkit dari rasa takut tadi, harus berani juga membedah diri sendiri. Orang katakan, “Mangga itu manis!” karena memang ada rasa gula/ manis pada mangga itu. Sama halnya pula, kalau orang bilang “Orang Papua pemabuk”, mereka tidak mengatakan itu karena mimpi tadi malam.

Bahkan baru-baru ini beredar video clip dan foto pejabat di Tanah Papua berada di tempat-tempat judi atau permainan, entah isu itu benar atau tidak, kita harus berani mengoreksi diri bahwa berita orang Papua sebagai pemabuk dan suka berjudi bukan berita baru, hanya diputar ulang dengan kemasan baru.

Papua Bangkit! harus bermakna sebagai penghapusan semua stigma dan stereotype ini. Apakah sanggup?

Jawabannya tadi,

“Mudah-mudahakan Papua akan bangkit!”¬†

Facebook Comments
tags: , , , , ,

Related For Papua Sudah, Sedang, atau Mudah-Mudahan Akan Bangkit?